Berita Terbaru
Dosen FPIK Universitas Bung Hatta Ikuti Simposium Kawasan Konservasi Perairan Barat Sumatra
Dua dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri dan Dr. Suparno, menghadiri Simposium Skala Besar Kawasan Konservasi Perairan Barat Sumatra (*Large-Scale Symposium on West Sumatra Marine Protected Areas*) yang digelar di Hotel Four Points by Sheraton, Medan pada 22–23 April 2026
Kedua dosen yang merupakan staf Pascasarjana Program Studi Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan (SP2K) tersebut diundang untuk berkontribusi dalam penyampaian data dan informasi ilmiah.
Materi yang disampaikan mencakup hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta publikasi ilmiah terkait potensi sumber daya perikanan dan kelautan, pengelolaan kawasan konservasi perairan, ekosistem penting dan produktif, biota laut yang terancam dan dilindungi, serta fenomena oseanografi di sepanjang pesisir barat Sumatra.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Indonesia (KI). Simposium diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari 11 perguruan tinggi negeri dan swasta, 5 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), 8 lembaga swadaya masyarakat (NGO), 4 pusat riset BRIN, Pushidros TNI AL, Bappenas Direktorat Kelautan dan Perikanan, serta tim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Simposium menghadirkan empat panel diskusi utama yang dilanjutkan dengan sesi berbagi data dan informasi melalui empat tema besar, yaitu oseanografi dan dinamika laut, biodiversitas dan ekosistem, perikanan dan sosial ekonomi, serta tata kelola. Diskusi dilaksanakan menggunakan metode World Café untuk mendorong kolaborasi antar peserta.
Dr. Harfiandri Damanhuri menyampaikan pengembangan Kawasan Konservasi Skala Besar di perairan barat Sumatra ditargetkan berkontribusi terhadap perluasan kawasan konservasi perairan hingga 12 juta hektare.
"Sementara itu, target nasional kawasan konservasi pada tahun 2045 mencapai 97,5 juta hektare atau sekitar 30 persen dari luas laut Indonesia. Hingga tahun 2025, luas kawasan konservasi perairan Indonesia tercatat baru mencapai 39,98 juta hektare," jelasnya
ditambahkannya, simposium ini dinilai memberikan manfaat besar dalam memperluas wawasan sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antar pemangku kepentingan.
"Data dan informasi yang dihimpun akan menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan dokumen awal pembentukan Kawasan Konservasi Skala Besar Laut Barat Sumatra (Large Scale Marine Protected Area/LSMPA). Selanjutnya, tindak lanjut kegiatan ini akan dilakukan secara kolaboratif melalui Kelompok Kerja LSMPA yang difasilitasi oleh Konservasi Indonesia," ungkapnya.
Kontribusi ilmiah Universitas Bung Hatta dalam forum ini juga cukup signifikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dipresentasikan, teridentifikasi empat jenis penyu dengan 145 titik pendaratan di sepanjang pantai barat Sumatra, dengan konsentrasi tertinggi berada di Gugusan Kepulauan Mentawai sebesar 64,10 persen.
Selain itu, ditemukan delapan jenis cetacea, terdiri dari tujuh jenis lumba-lumba dan satu jenis paus Omura, di Kawasan Konservasi Pulau Pieh dan Laut Sekitarnya, Sumatera Barat.
Tidak hanya itu, dosen Pascasarjana FPIK Universitas Bung Hatta juga terlibat sebagai tenaga ahli dalam penyusunan zonasi, pemetaan, dan rencana pengelolaan di delapan kawasan konservasi perairan di Sumatera Barat dengan total luas mencapai 337.000 hektare. Keterlibatan ini telah dimulai sejak tahun 2001 dan berbasis pada pendekatan ilmiah (evidence-based).
Pengembangan Kawasan Konservasi Skala Besar di perairan barat Sumatra juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 14 tentang ekosistem laut.